Sang Cucu Sampai Sekarang Tak Tau Bapaknya Hidup Atau Mati, Nenek Reza Rahadian 20 Tahun Sembunyi Karena PKI





    Untuk pertama kali, Reza Rahadian, angkta bicara soal kehidupan pribadinya yang jarang diketahui orang.

    Meski kini dikenal sebagai aktor film terpandang, Reza Rahadian nyatanya harus menelan kenyataan tak tau bapak kandungnya masih hidup atau mati.

    Kepada Daniel Mananta, Reza Rahadian mengungkapkan kehidupan keluarganya lewat kanal Youtube Daniel Mananta Network seperti dikutip oleh zonajakarta.com, Selasa, 6 April 2021.

    Reza menuturkan jika dirinya tak tahu menahu rupa dan wajah sang ayah.


    "Karena sejujurnya gue nggak tahu (keberadaan ayah)," kata Reza yang tak tahu bapaknya sudah meninggal atau belum.

    "Gue nggak tahu apakah bokap gue masih hidup, atau beliau sudah meninggal, gue nggak tahu. Nggak ada petunjuk sama sekali.

    Gue bahkan nggak tahu rupanya seperti apa, wujudnya bagaimana, gue nggak tahu," lanjutnya.


    Masa lalu buram Reza sendiri sudah dimulai pada usia 6 bulan dimana ayahnya yang WNA itu meninggalkan sang ibu.

    Sampai saat ini sang ayah bahkan tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi.


    "Dia udah meninggalkan ibu gue dari gue sangat (usia) 6 bulan, 5 bulan gitu ya," ucap Reza.

    Reza hanya mendapat petunjuk dari sang ibu ciri-ciri ayahnya.


    "Iya dia punya alis yang sama kayak kamu, dia punya sorot mata yang hampir mirip,' mungkin karena timur tengah, dia orang persia kan," jelas Reza.


    Hingga sekarang, cucunya tak tau dimana rimba sang ayah, nenek Reza Rahadian rupanya bukan orang sembarangan.


    Sejarawan kondang Indonesia, Asvi Warman Adam pernah membongkar identitas nenek Reza Rahadian.


    Dikutip Zonajakarta.com dari Pikiran Rakyat, Profesor Riset bidang Sejarah, Asvi Warman Adam, sempat membeberkan identitas nenek Reza Rahadian.


    Hal itu disampaikan Asvi dalam diskusi virtual bertema “Ngeri-Ngeri Kebangkitan PKI” yang dipandu Bonnie Triyana, di Jakarta, Selasa, 7 Juli 2020.


    Sejarawan yang bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu menengarai pihak yang melakukannya ingin menegakkan kembali kekuasaannya, persis sama dengan cara yang dulu dilakukan Orde Baru.

    Yakni menjadikan komunisme sebagai musuh bersama.


    “Padahal, faktanya, Komunisme itu sudah punah dengan adanya TAP MPRS yang isinya membubarkan PKI dan melarang ajaran komunisme, sudah berlaku sejak 1966 serta bertahan hingga saat ini,” kata Asvi.


    Ia mengangkat kisah Reza Rahadian, aktor terkenal saat ini yang memiliki nenek bernama Fransisca Casparina Fanggidaej.


    Neneknya itu merupakan anggota Parlemen Indonesia yang kebetulan di tahun 1965 sedang berada di Beijing.


    Mengetahui situasi politik terkait PKI saat itu, Fransisca memilih bertahan dan tak kembali, supaya anak serta keluarganya tak dikaitkan dengan PKI.


    Padahal, Fransisca sudah berjuang untuk kemerdekaan RI dan ikut terlibat di perjuangan 10 November 1945 di Surabaya.


    "Dia dekat Soekarno, dan takut pulang. Selama 20 tahun di Tiongkok, lalu minta suaka ke Belanda. Dari sana dia mengabarkan ke keluarganya bahwa dia masih hidup. Bayangkan dia memendam rahasia 20 tahun. Bayangkan hidup anaknya di Indonesia. Dia khawatir kalau anaknya dia beritahu pada 1965, anak-anaknya ditangkap," kata Asvi.


    Bagi Asvi, sama seperti anak keluarga terkait pemberontakan DI/TII, PRRI/Permesta, dan RMS, seharusnya anak-anak keluarga yang dikaitkan PKI tak menjadi korban.


    Sebab kesalahan orang tua tak seharusnya menjadi tanggung jawab anak dan cucu.


    "Saya ingin katakan bahwa partai dan DPR itu bersih dari PKI. Jangan ada tuduhan lagi. Tak ada partai yang PKI sekarang ini. Kalau ada buktinya langsung laporkan ke bareskrim. Tak ada di parlemen kita itu PKI. Bahaya laten PKI adalah halusinasi menurut saya," ucap Asvi.


    Diingatkan oleh Asvi, di era Orba, isu PKI dipertahankan untuk kepentingan Pemerintah dan rejim berkuasa, dengan menghancurkan orang yang bersikap kritis. Isu PKI juga digunakan ketika hendak mengambil tanah rakyat dengan mudah.


    “Maka di Orba, setiap jelang 30 September, pasti ada temuan bendera dan kaos PKI. Itu jaman Orba. Sekarang, makin rutin karena ada kelompok kepentingan yang mau angkat isu komunisme itu,” kata Asvi.


    Kata Asvi, gerakan mereka semakin menggema karena perkembangan teknologi informasi disertai kurangnya literasi masyarakat dalam menyaring bahan-bahan kampanye yang disebarkan. Informasi sangat mentah dan sumir itu sengaja disebarkan berulang dan terus menerus.


    “Dan hal itu didukung pula oleh proyek Desoekarnoisasi yang dilaksanakan selama masa berkuasanya Orde Baru. Akumulasi semua hal itu juga yang terjadi dalam polemik pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP),” ucap dia.


    Asvi juga tak memungkiri, stigmatisasi PKI masih menjadi alat politik yang digunakan sebagai senjata menuju pemilu 2024. Masalahnya, dalam mengangkat isu itu, stigma terhadap anak-anak dan keturunan keluarga terlibat PKI masih diteruskan.***ZJ

    Tidak ada komentar untuk "Sang Cucu Sampai Sekarang Tak Tau Bapaknya Hidup Atau Mati, Nenek Reza Rahadian 20 Tahun Sembunyi Karena PKI"