Kisah Pilu Pelajar SMK di Klaten ini Harus Kehilangan 2 Tangannya Saat PKL


    Kisah pilu Alfian Fahrul Nabila (18) siswa kelas XI salah satu SMK di Klaten yang dua tangannya diamputasi viral di media sosial. Kedua tangannya diamputasi setelah tersengat aliran listrik saat mengikuti praktik kerja lapangan (PKL).

    Kisah pilu anak pertama pasangan, Wagimin (55) dan Tri Ismani (54) itu terkuak setelah sempat viral di media sosial. Kisah pilu warga Dusun Dalem, Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno, Klaten itu diunggah di beberapa grup Facebook dan mendapatkan seribuan tanggapan.

    Salah satu akun Fthya***** mengunggah kisah Alfian di grup Facebook ISK-Info seputar Klaten.

    Disertai foto Alfian bertela**ang dada dengan tangan teramputasi diiringi kalimat cerita di antaranya sebagai berikut:

    “Alfian seorang siswa kelas XI yang sedang belajar praktik industri di dunia usaha tak akan menyangka bakal kehilangan kedua tangannya saat PKL…..”

    Kisah Alfian ini diunggah empat hari yang lalu dan kini sudah menuai 1.208 tanggapan dan ratusan komentar dari netizen. Postingan itu juga diunggah di grup atau akun media sosial lain seperti KabarKlaten dan lainnya. Lalu bagaimana kisahnya?

    Saat dijumpai detikcom di rumahnya, Alfian menceritakan kembali kecelakaan yang dialaminya. Kecelakaan tragis itu terjadi tanggal 9 Maret 2020.

    “Kejadiannya saat itu tanggal 9 Maret 2020 sekitar pukul 16.30 WIB saya sedang PKL masang jaringan WiFi di Kecamatan Wedi. Saya mau naikkan pipa tiang antena tapi tidak kuat dan ambruk kena kabel listrik,” cerita Alfian pada detikcom, Selasa (2/3/2021).

    Alfian mengatakan saat itu dia membawa tiang besi sepa**ang 4 meter naik ke atas genteng. Sementara lima temannya berada di bawah. Hingga akhirnya dia tersengat listrik dan jatuh dari ketinggian.

    “Saya tidak kuat nahan pipa 4 meter itu karena saya naik sendiri dan teman saya di bawah. Saya tersengat dan tersangkut di genteng, tak sadarkan diri,” sambung Alfian.

    Begitu sadar, papar Alfian, dirinya sudah di rumah sakit. “Saat naik ke genteng sendiri saya juga seperti tidak sadar kalau ada kabel listrik. Sampai akhirnya satu per satu tangan diamputasi dokter,” ungkap Alfian.

    Alfian mengaku awalnya merasa sangat terpuruk karena kondisinya tangannya yang harus diamputasi. Namun setelah hampir setahun berlalu kini dirinya sudah biasa menerima keadaan.

    “Sekarang ya sudah biasa. Teman-teman sekolah juga banyak main ke sini bertanya soal pelajaran,” kata Alfian yang masih tercatat siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) itu.

    Wagimin, ayah Alfian, mengatakan akibat kecelakaan itu Alfian sempat dirawat di RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten selama 44 hari.

    “Kondisinya saat masuk ya setengah sadar dan luka di kedua tangan dan kaki,” jelas Wagimin.

    Kondisi anaknya, lanjut Wagimin saat itu kedua tangannya sudah kaku. Selang beberapa hari luka bakar pada tubuh Alfian membusuk.

    “Tangan mulai pergelangan melepuh karena tersengat listrik. Saat diberi pandangan dokter, tetap awalnya kita upayakan tidak amputasi tapi selang dua Minggu jaringan tangan tidak berkembang,” sambung Wagimin.