Kisah Pilot Garuda Indonesia Berhasil Mendarat Darurat Di Bengawan Solo, 59 Nyawa Selamat Dalam Kejadian Itu



    Sebuah kisah diceritakan oleh Kapten Abdul Rozak kembali viral setelah kembali diunggah oleh akun @janes_cs di Tiktok. Video itu sudah ditonton sebanyak 4,9 juta views dan mendapat 455.300 likes serta 3.885 komentar dari para netizen.

    Kisah itu merupakan merupakan sebuah pengalaman mengerikan yang dirasakan salah satu pilot Garuda Indonesia GA-421 Kapten Abdul Rozak pada 16 Januari 2002. Pesawat Boeng 737-300 rute Lombok-Yogyakarta mengalami masalah mesin saat terbang di udara. Pada saat itu, kondisi cuaca sedang buruk dan pesawat tengah berada di ketinggian 23.000 kaki.

    Kemudian setelah menerobos awan banyak petir, mesin pesawat tidak beroperasi sehingga pilot dan co-pilot Haryadi Gunawan merasa panik. Lantas saja, Haryadi langsung mengambil microfon dan berteriak menginformasikan kepada penumpang di dalam kabin pesawat tetapi jalur komunikasi dari kokpit ke kabin sudah mati.

    ” Saya katakan saja sudah letakkan. Kita berdoa, detik-detik kematian sudah di depan mata. Kita suruh berdoa dan saya takbir. Setelah berdoa dan saya takbir, saya konsentrasi lagi,” ujar Kapten Abdul Rozak.

    Kemudian ia perlahan-lahan menurunkan pesawat ke 17.000 kaki. Dan saat ketnggan tersebutlah mulai terlihat hamparan sawah dan sungai. Sebelum mendaratkan pesawat di sungai, ia terus berdiskusi dengan co-pilotnya yang menyarankan untuk mendaratkan pesawat di sawah.

    ” Begitu saya ke kiri lihat ada sungai, saya sarankan bagaimana kalau ke sungai itu. Pada saat itu dia (Co-pilot) sarankan sawah, saya bilang kita akan mati semua kalau kesitu. Dengan waktu tersisa sedikit itu saya sarankan ke sungai,” katanya.

    Kepanikan kembali datang saat sang kapten memutuskan terbang rendah di ketinggian 3.000 kaki. Karena pada  saat itu ia melihat ungai Bengawan Solo yang akan dijadikan lokasi pendaratan darurat ternyata berisi beberapa jembatan yang memiliki banyak tiang. Namun, karena waktu yang semakin sedikit, ia tetap teguh pada keputusan awal mendaratkan pesawat di sungai.

    Setelah itu, dia segera menyejajarkan pesawat dengan sungai dan bersiap siap menjadikan sungai sebagai tempat landasan. Rintangan kembali datang saat ia mencoba membelokkan pesawat ke kiri. Didekat sayap pesawat terdapat sebuah jamebatan yang harus ia lalui. Sementara itu, disisi lain kondisi pesawat tinggal jatuh. Akhirnya pesawat itu berhasil mendarat di sungai dengan kondisi 54 penumpang dan 5 kru pesawat pun berhasil selamat, sementara 1 orang kru pesawat meninggal dunia.

    ” Jadi begitu sulitnya saya mendaratkan pesawat itu di antara dua jembatan,” katanya.