Baru Sehari Pimpin Amerika, Presiden Joe Biden Sudah Usik Indonesia Lewat Hambali, Kenapa?



    Joe Biden akhirnya resmi dilantik sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat (AS) pada Rabu (20/1/2021).

    Di acara pelantikan, Joe Biden mengucapkan sumpah jabatan Presiden Amerika Serikat dengan meletakkan tangan di atas Alkitab pusaka.

    Dikutip Zonajakarta.com dari Antara News, alkitab pusaka tersebut dimiliki keluarganya selama lebih dari satu abad.

    Pengambilan sumpah Joe Biden dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung John Roberts, Rabu (20/1/2021) pukul 12.00 waktu setempat.

    Joe Biden bersumpah untuk "melestarikan, melindungi, dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat".

    Kini berusia 78 tahun, Joe Biden menjadi Presiden tertua dalam sejarah Amerika Serikat.

    Pelantikannya di Washington menjadi yang paling sederhana bagi AS, terutama karena pandemi Covid-19 serta kekhawatiran soal keamanan, setelah massa pendukung Trump menyebut gedung Kongres AS, Capitol pada 6 Januari.

    Donald Trump yang tidak mau hadir dalam pelantikan juga enggan mengakui kekalahan dalam pemilihan Presiden AS pada 3 November 2020 lalu.

    Ia tidak menyebut nama Biden dalam sambutan terakhirnya sebagai Presiden pada Rabu pagi.

    Ia malah memuji rekor pemerintahannya dan berjanji akan kembali "dalam beberapa bentuk".

    Namun, baru sehari pimpin negeri Paman Sam, Joe Biden sudah mengusik Indonesia.

    Hal ini seperti dikutip zonajakarta.com dari CNA, Jumat (22/1/2021), Jaksa militer Amerika Serikat telah mengajukan tuntutan resmi terhadap seorang ekstremis Indonesia dan dua orang lainnya dalam pemboman Bali 2002 dan serangan Jakarta 2003, kata Pentagon Kamis (21/1/2021).

    Riduan Isamuddin alias Hambali adalah warga Indonesia yang ditahan di penjara paling melanggar HAM, Guantanamo.

    Hambali ditahan di Guantanamo oleh militer Amerika Serikat (AS) akibat keikutsertaannya dalam Bom Bali 2002 dan pemboman JW Marriot.

    Ia ialah pemimpin tertinggi jaringan teroris Al Qaeda di Asia Tenggara.

    Hambali bersama dua pengikutnya bisa sampai ke Guantanamo karena ditangkap di Bangkok, Thailand, pada 2003.

    Tiga tahun kemudian ia dipindahkan ke penjara Guantanamo bersama dua orang pengikutnya asal Malaysia, Muhammad Nazir bin Lep dan Muhammad Bin Amin.

    15 tahun lamanya Hambali mendekam di Guantanamo namun baru pada 2021 ini ia ditetapkan oleh pemerintah AS sebagai tersangka Bom Bali dan JW Marriot.

    15 Tahun juga baginya untuk menunggu persidangan tapi sudah serasa menjalani vonis hukuman.

    "Ketiganya dijerat dengan pasal konspirasi, pembunuhan, percobaan pembunuhan, tindak kekerasan dengan sengaja, terorisme, menyerang warga sipil, perusakan properti, serta pelanggaran hukum peperangan," kata Kementerian Pertahanan AS.

    Anehnya penetapan tersangka Hambali ini terkesan mendadak karena baru diumumkan setelah Joe Biden dilantik.

    Tidak jelas mengapa setelah bertahun-tahun penundaan bahwa dakwaan di depan pengadilan militer Guantanamo diumumkan Kamis (21/1/2021).

    Dakwaan itu diumumkan pada hari pertama pemerintahan Presiden Joe Biden.

    Pasalnya dengan adanya penetapan ini maka penjara Guantanamo akan terus beoperasi walau pada kampanye pilpres lalu Joe Biden berjanji akan menutup penjara tak berperikemanusiaan itu.

    Padahal dulu, ketika Joe Biden menjadi wakil presiden Barack Obama, mereka berusaha menutup penjara yang dikelola angkatan laut di Guantanamo dan memiliki tahanan yang tersisa, baik dibebaskan atau diadili di pengadilan sipil Amerika Serikat.

    Namun usaha penutupan itu gagal total.

    Pengganti Obama, Donald Trump, tidak menunjukkan minat pada Guantanamo dan narapidana, yang ada di dalamnya termasuk tokoh Al-Qaeda dan perencana serangan 9-11 Khalid Sheikh Mohammed.

    Kini selama 30 hari kedepan, Hambali akan menjalani sidang perdana usai 15 tahun mendekam di penjara.***ZJ